Kamis, 15 November 2018

Pengaruh Sistem Pengairan pada Lahan Sawah Irigasi Sederhana terhadap Produksi Padi (Oryza sativa L.) di Gede Bage, Bandung


I.              PENDAHULUAN
 
Lahan sawah memiliki fungsi strategis, karena merupakan penyedia bahan pangan utama bagi penduduk Indonesia. Data luas baku lahan sawah untuk seluruh Indonesia menunjukan bahwa sekitar 41% terdapat di Jawa, dan sekitar 59% terdapat di luar Jawa (BPS, 2006). Data menunjukkan bahwa dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk berbagai sektor, konversi lahan sawah cenderung mengalami peningkatan, di lain pihak pencetakan lahan sawah baru (ekstensifikasi) mengalami perlambatan (Sudaryanto, 2003; Irawan, 2004; dan Agus et al., 2006).
Lahan sawah yang berbahan induk volkan seperti tanah-tanah sawah di Jawa secara alami lebih subur bila dibanding dengan tanah – tanah sawah daerah lain yangberbahan induk bahan tersier. Adanya
kesuburan tanah alami yang relatif lebih baik dan ditunjang oleh adopsi teknologi budidaya yang lebih maju, mengakibatkan terjadinya kesenjangan produktivitas yang tinggi antara lahan sawah di Jawa dan di luar Jawa (Subagjo et al., 2000). Namun sebagai dampak adanya konversi lahan sawah yang terjadi secara alamiah dan sulit untuk dihindari, pengembangan lahan sawah di luar Jawa harus lebih diintensifkan. Perlambatan ekstensifikasi ditambah dengan desakan terhadap konversi lahan sawah untuk pembangunan sektor lain menyebabkan luas baku lahan sawah mengalami penyusutan dari sekitar 8,3 juta ha pada tahun 1990 menjadi sekitar 7,8 juta ha pada tahun 2005 (BPS, 1990 dan 2005).
Pada umumnya lahan sawah yang mengalami konversi adalah lahan yang mempunyai produktivitas tinggi di Pulau Jawa dan di sekitar kota-kota besar yang merupakan pusat pembangunan di luar Pulau Jawa (Simatupang dan Rusastra, 2004; dan Agus et al., 2006).
Sebaliknya lahan yang baru dibuka mempunyai produktivitas yang rendah, karena mempunyai berbagai kendala mulai dari kendala fisik (Dariah dan Agus, 2007), kimia (Setyorini et al., 2007) dan biologi (Saraswati et al. 2007), serta berbagai kendala sosial, kelembagaan, infrastruktur, dan rendahnya tingkat keuntungan. Dengan demikian, sebagian lahan sawah yang baru dibuka tidak dapat digunakan secaraoptimal oleh penduduk setempat sehingga sebagian beralih fungsiuntuk penggunaan lain seperti perkebunan kelapa sawit dan karet.
Penduduk Indonesia dalam waktu empat puluh tahun ke depan masih akan terus bertambah dengan pertumbuhan sekitar 1,5%/tahun, sehingga permintaan pangan juga terus meningkat. Lahan pertanian sawah pada tahun 2005, seluas 7,89 juta ha (BPS, 2008) produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan akan pangan penduduk Indonesia terutama beras, gula, kacang tanah, dan kedelai, sehingga perlu impor, yang pada dekade terakhir jumlahnya meningkat. Irawan (2005) memperkirakan pengadaan beras impor pada tahun 2010 mencapai 4,12 juta ton. Swastika et al. (2000) memproyeksikan pada tahun 2010 impor kedelai dan jagung masing-masing akan mencapai 1,8 dan 1,5 juta ton. Agus dan Irawan (2007)memperkirakan bahwa tahun 2025 Indonesiaakan harus mengimpor 11,4 juta ton beras jika konversi lahan sawah tetap terjadi dengan laju 187.720 ha/th (Sutomo dan Suhariyanto, 2005) dan pencetakan sawah baru mencapai 100.000 ha/th. Adanya perkiraan impor pangan yang semakin besar bukan berarti menunjukkan rasa pesimis terhadap kemampuan bangsa Indonesia dalam menyediakan pangan, tetapi harus dimaknai sebagai cambuk peringatan perlunya pemecahan yang berkelanjutan dalam menangani produksi pangan. Ketersediaan lahanuntuk memproduksi pangan yang tidak bertambah, bahkan berkurang, merupakan masalah penting yang perlu diatasi secepatnya. Dengan adanya Undang-undang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang bertujuan untuk menekan laju konversi lahan, maka diperkirakan pada tahun-tahun mendatang konversi lahan sawah produktif dapat ditekan menjadi minimal, atau bahkan dihentikan.
Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan pokok bangsa Indonesia. Sampai saat ini beras merupakan bahan pangan yang hampir selalu muncul dalam menu sehari-hari. Beras mengambil porsi terbesar dalam hidangan dan merupakan sumber energi yang terbesar (Khumaidi, 2008). Padi merupakan salah satu komoditas strategis baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Umumnya usaha tani padi masih merupakan tulang punggung perekonomian keluarga tani dan perekonomian pedesaan.
Menurut Sembiring (2008) keberhasilan peningkatan produksi padi lebih banyakdisumbangkan oleh peningkatan produktivitas dibandingkan dengan peningkatan luas panen. Pada periode 1971 – 2006 peningkatan produktivitas memberikan konstribusi sekitar 56,1%, sedangkan peningkatan luas panen dan interaksi keduanya memberikan kontribusi masing-masing 26,3% dan 17,5% terhadap peningkatan produksi padi. Dalam hal ini, irigasi memiliki peranan pentingdalam peningkatan efisiensi pemakaian air dalam rangka peningkatan produksi beras Indonesia. Dari segi teknis kontruksi dan jaringannya, irigasi dibedakan atas irigasi teknis maju, irigasi teknis, semi teknis dan sederhana. Dengan adanya irigasiteknis, diharapkan penyaluran air semakin efektif dan efisien, namun secara ekonomis memerlukan biaya yang lebih besar untuk operasi dan pemeliharaan saluran irigasi. Hal ini dapat diimbangi jika produktivitas padi yang dihasilkan lebih besar dari biaya operasional saluran irigasi (Rusydatulhal,2004).

II.                METODOLOGI
Pengkajian ini dilaksanakan di Kecamatan Gede Bage, Kota Bandung. Pendekatan yang digunakan adalah mengadakan obesrvasi langsung pada satudaerah lahan sawah irigasi dan wawancara terhadap petani pengguna air. Analisisnya berupa analisis deskriptif kualitatif.

III.             HASIL DAN PEMBAHASAN
Gbr. Peta Wilayah Kecamatan Gede Bage

Luas wilayah Kecamatan Gedebage adalah 979,930 Ha. Kelurahan Cisaranten Kidul memiliki wilayah terluas dibandingkan kelurahan lain yaitu seluas 426,711 Ha atau43,55% dari keseluruhan luas Kecamatan Gedebage, sedangkan kelurahan yang memiliki wilayah yang terkecil dibanding kelurahan yang lain adalah Kelurahan Rancanumpang dengan luas sebesar 115,652 Ha atau sekitar 11,80%.
Terdapat 4 kelurahan di Gedebage, antara lain:
1. Kelurahan Rancabolang
2. Kelurahan Rancanumpang
3. Kelurahan Cisaranten Kidul
4. Kelurahan Cimincrang
Secara topografi wilayah, Kecamatan Gedebage berada pada dataran rendah dengan ketinggian tanah 627 meter dari permukaan laut. Dengan luas wilayah sebesar 979,930 hektar, pada saat ini Kecamatan Gedebage merupakan kecamatan yang masih
memiliki areal pertanian yang cukup luas dibandingkan dengan kecamatan lain di Kota Bandung. Seiring perkembangan Kota Bandung, alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian tidak dapat dielakkan lagi. Begitupun dengan Kecamatan Gedebage, walaupun luas lahan pertanian di Kecamatan Gedebage masih yang terluas dibandingkan kecamatan lain di Kota Bandung, tapi tetap saja alih fungsi lahan terjadi secara signifikan di Kecamatan Gedebage. Luas Kecamatan Gedebage adalah 9,78 km2, yang penggunaannya diperuntukkan untuk lahan sawah sekitar 50%, lahan pertanian non sawah 3% dan sisanya berupa lahan non pertanian. Lahan pertanian di kecamatan Gedebage tahun 2014 semakin berkurang dibandingkan tahun 2013, lahan pertanian semakin berkurang sebesar 10% hal ini dikarenakan banyak lahan pertanian yang alih fungsi menjadi perumahan dengan sarana dan prasarananya diantaranya dengan adanya pembangunan komplek perumahan baru yaitu diantaranya Sumarecon.( BPS Bandung, 2015)
Lahan sawah yang ada di Kecamatan Gede Bage tergolong kepada lahan sawah irigasi sederhana. Lahan sawah irigasi sederhana adalah lahan sawah yang pengairannya bersumber dari jaringan irigasi sederhana, irigasi sederhana itu sendiri adalah Jaringan irigasi yang kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas.
Ketersediaan air biasanya melimpah dan mempunyai kemiringan yang sedang sampai curam, sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut pemakai air dari latar belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa kelemahan antara lain; terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang.Sistem pengairannya adalah dengan membuka jalan air di setiap pematang sawah untuk mempertukarkan air dan mendistribusikan air dari satu petak sawah ke petak lainnya. Apabila musim kemarau tiba maka petani akan memompa air yang ada di sungai menggunakan mesin untuk pengairan. Sistem pengairan yang masih sederhana tersebut sudah cukup membuat produksi baik akan tetapi belum mampu meningkatkan produksi padi di Kecamatan Gede Bage. Sehingga diperlukan pengairan secara teknis atau semi teknis untuk meningkatkan produksi padi terutama di musim kemarau.

IV.             KESIMPULAN
Manajemen dan sistem pengairan adalah sebuah faktor yang dapat meningkatkan produktifitas sebagian besar tanaman. Pemenuhan kebutuhan air tanaman akan mendukung daya tumbuh dan kembangnya yang akan mendukung adanya produktifitas dari suatu tanaman untuk menghasilkan hasil produksi yang optimum. Pemberian air yang cukup akan mengembalikan jumlah air yang hilang dari tubuh tanaman akibat evapotranspirasi sehingga mampu mendukung berlangsungnya proses fisiologis dan biokimia tanaman dengan baik.

V.                DAFTAR PUSTAKA
Agus, F., I. Irawan, H. Suganda, W. Wahyunto, A. Setyanto, and M.
Kundarto. 2006. Environmental multifunctionality of Indonesian agriculture. Jurnal: Paddy Water             Environment 4: 181-188.
Agus, F., dan Irawan. 2006. Agricultural land conversion as a threat tofood security and environmental quality. Jurnal Penelitian danPengembangan Pertanian 25(3): 90-98.
Agus, F., and A. Mulyani. 2006. Judicious use of land resources forsustaining Indonesian rice self sufficiency. Rice Industry, Cultureand Environment, Book 1. IndonesianCenter for Rice Research,Sukamandi, Indonesia.
Badan pusat statistik kota bandun.2015.bps. Bandung.
Badan Pusat Statistik (BPS). (1994, 1999, 2006). Luas lahan menurut penggunaan di Indonesia, Jakarta: Survai Pertanian, BPS.
BPS. 1997-2008. Statistik Indonesia. BadanPusat Statistik. Jakarta
Dariah A., dan F.Agus. 2007. Pengelolaan Sifat Fisik Tanah Sawahbukaan Baru dalam : Tanah Sawah Bukaan Baru halaman 107-130. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Irawan B. 2004. Konversi lahan sawah di Jawa dan dampaknyaterhadap produksi padi dalam : Ekonomi Padi dan BerasIndonesia, halaman 295 -326. Badan Penelitian danPengembangan Pertanian. Jakarta.

Irawan. 2005. Analisis ketersediaan beras nasional:suatu kajian simulasi pendekatansistem dinamis. Hlm 107-130. DalamProsiding Seminar Nasional MultifungsiPertanian dan Ketahanan Pangan, Bogor. Pusat Penelitian dan PengembanganTanah dan Agroklimat. Bogor.
Saraswati dan Edi Husen. 2007. Prospek penggunaan pupuk hayatipada sawah bukaan baru dalam : Tanah Sawah Bukaan Baruhalaman 151-174. Balai Besar Penelitian dan PengembanganSumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Sembiring, H., dan Daniel, M., 2003. Prospekpengembangan pengelolaan tanaman terpadupadi sawah di Sumatera tahun 2009. Di DalamHermanto, B., editor. 2013. Analisis FungsiProduksi Usaha Tani Padi Sawah DanPengaruhnya Terhadap Produksi DomestikRegional Bruto (PDRB) Untuk Pengembangan Wilayah Di Kabupaten Deli Serdang.
Setyorini, D., Didi Ardi S., dan Nurjaya. 2007. RekomendasiPemupukan Padi Sawah Bukaan Baru, dalam : Tanah SawahBukaan Baru halaman 77-106. Balai Besar Penelitian danPengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Simatupang P., dan I Wayan Rusastra. 2004. Kebijakan PembangunanSistem Agribisnis Padi. Ekonomi Padi dan Beras Indonesia.
Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Halaman 31-52.
Subagjo H., Nata Suharta dan Agus Bambang Siswanto. 2000. Tanahtanahpertanian di Indonesia, dalam Sumberdaya lahanIndonesia dan Pengelolaannya, halaman 21-65. Puslit Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Sudaryanto T. 2003. Konversi lahan dan produksi pangan nasional.Prosiding Seminar Nasional Multifungsi dan Konversi lahanpertanian di Bogor halaman 57-65. Puslitbang Tanah dan Agroklimat. Bogor
Swastika, D.K.S., P.U. Hadi, dan N. Ilham. 2000.Proyeksi Penawaran dan PermintaanKomoditas Tanaman Pangan: 2000-2010. Pusat Penelitian Sosial Ekonom Pertanian. Hlm 24.



Pengaruh Sistem Pengairan pada Lahan Sawah Irigasi Sederhana terhadap Produksi Padi (Oryza sativa L.) di Gede Bage, Bandung

I.               PENDAHULUAN   Lahan sawah memiliki fungsi strategis, karena merupakan penyedia bahan pangan utama bagi penduduk Ind...