I. PENDAHULUAN
Lahan sawah memiliki fungsi strategis,
karena merupakan penyedia bahan pangan utama bagi penduduk Indonesia. Data luas
baku lahan sawah untuk seluruh Indonesia menunjukan bahwa sekitar 41% terdapat
di Jawa, dan sekitar 59% terdapat di luar Jawa (BPS, 2006). Data menunjukkan
bahwa dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan akan lahan
untuk berbagai sektor, konversi lahan sawah cenderung mengalami peningkatan, di
lain pihak pencetakan lahan sawah baru (ekstensifikasi) mengalami perlambatan
(Sudaryanto, 2003; Irawan, 2004; dan Agus et al., 2006).
Lahan sawah yang berbahan induk volkan
seperti tanah-tanah sawah di Jawa secara alami lebih subur bila dibanding
dengan tanah – tanah sawah daerah lain yangberbahan induk bahan tersier. Adanya
kesuburan
tanah alami yang relatif lebih baik dan ditunjang oleh adopsi teknologi
budidaya yang lebih maju, mengakibatkan terjadinya kesenjangan produktivitas
yang tinggi antara lahan sawah di Jawa dan di luar Jawa (Subagjo et al.,
2000). Namun sebagai dampak adanya konversi lahan sawah yang terjadi secara
alamiah dan sulit untuk dihindari, pengembangan lahan sawah di luar Jawa harus
lebih diintensifkan. Perlambatan ekstensifikasi ditambah dengan desakan
terhadap konversi lahan sawah untuk pembangunan sektor lain menyebabkan luas
baku lahan sawah mengalami penyusutan dari sekitar 8,3 juta ha pada tahun 1990
menjadi sekitar 7,8 juta ha pada tahun 2005 (BPS, 1990 dan 2005).
Pada umumnya lahan sawah yang mengalami
konversi adalah lahan yang mempunyai produktivitas tinggi di Pulau Jawa dan di
sekitar kota-kota besar yang merupakan pusat pembangunan di luar Pulau Jawa
(Simatupang dan Rusastra, 2004; dan Agus et al., 2006).
Sebaliknya lahan yang baru dibuka
mempunyai produktivitas yang rendah, karena mempunyai berbagai kendala mulai
dari kendala fisik (Dariah dan Agus, 2007), kimia (Setyorini et al.,
2007) dan biologi (Saraswati et al. 2007), serta berbagai kendala
sosial, kelembagaan, infrastruktur, dan rendahnya tingkat keuntungan. Dengan
demikian, sebagian lahan sawah yang baru dibuka tidak dapat digunakan
secaraoptimal oleh penduduk setempat sehingga sebagian beralih fungsiuntuk
penggunaan lain seperti perkebunan kelapa sawit dan karet.
Penduduk Indonesia dalam waktu empat puluh
tahun ke depan masih akan terus bertambah dengan pertumbuhan sekitar
1,5%/tahun, sehingga permintaan pangan juga terus meningkat. Lahan pertanian
sawah pada tahun 2005, seluas 7,89 juta ha (BPS, 2008) produksinya belum mampu
memenuhi kebutuhan akan pangan penduduk Indonesia terutama beras, gula, kacang
tanah, dan kedelai, sehingga perlu impor, yang pada dekade terakhir jumlahnya
meningkat. Irawan (2005) memperkirakan pengadaan beras impor pada tahun 2010
mencapai 4,12 juta ton. Swastika et al. (2000) memproyeksikan pada tahun
2010 impor kedelai dan jagung masing-masing akan mencapai 1,8 dan 1,5 juta ton.
Agus dan Irawan (2007)memperkirakan bahwa tahun 2025 Indonesiaakan harus
mengimpor 11,4 juta ton beras jika konversi lahan sawah tetap terjadi dengan
laju 187.720 ha/th (Sutomo dan Suhariyanto, 2005) dan pencetakan sawah baru
mencapai 100.000 ha/th. Adanya perkiraan impor pangan yang semakin besar bukan
berarti menunjukkan rasa pesimis terhadap kemampuan bangsa Indonesia dalam
menyediakan pangan, tetapi harus dimaknai sebagai cambuk peringatan perlunya
pemecahan yang berkelanjutan dalam menangani produksi pangan. Ketersediaan
lahanuntuk memproduksi pangan yang tidak bertambah, bahkan berkurang, merupakan
masalah penting yang perlu diatasi secepatnya. Dengan adanya Undang-undang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang bertujuan untuk menekan
laju konversi lahan, maka diperkirakan pada tahun-tahun mendatang konversi
lahan sawah produktif dapat ditekan menjadi minimal, atau bahkan dihentikan.
Padi (Oryza
sativa L.) merupakan komoditas pangan pokok bangsa Indonesia. Sampai saat
ini beras merupakan bahan pangan yang hampir selalu muncul dalam menu
sehari-hari. Beras mengambil porsi terbesar dalam hidangan dan merupakan sumber
energi yang terbesar (Khumaidi, 2008). Padi merupakan salah satu komoditas
strategis baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Umumnya usaha tani padi
masih merupakan tulang punggung perekonomian keluarga tani dan perekonomian
pedesaan.
Menurut
Sembiring (2008) keberhasilan peningkatan produksi padi lebih banyakdisumbangkan
oleh peningkatan produktivitas dibandingkan dengan peningkatan luas panen. Pada
periode 1971 – 2006 peningkatan produktivitas memberikan konstribusi sekitar
56,1%, sedangkan peningkatan luas panen dan interaksi keduanya memberikan
kontribusi masing-masing 26,3% dan 17,5% terhadap peningkatan produksi padi.
Dalam hal ini, irigasi memiliki peranan pentingdalam peningkatan efisiensi
pemakaian air dalam rangka peningkatan produksi beras Indonesia. Dari segi
teknis kontruksi dan jaringannya, irigasi dibedakan atas irigasi teknis maju,
irigasi teknis, semi teknis dan sederhana. Dengan adanya irigasiteknis,
diharapkan penyaluran air semakin efektif dan efisien, namun secara ekonomis
memerlukan biaya yang lebih besar untuk operasi dan pemeliharaan saluran irigasi.
Hal ini dapat diimbangi jika produktivitas padi yang dihasilkan lebih besar
dari biaya operasional saluran irigasi (Rusydatulhal,2004).
II.
METODOLOGI
Pengkajian ini
dilaksanakan di Kecamatan Gede Bage, Kota Bandung. Pendekatan yang digunakan
adalah mengadakan obesrvasi langsung pada satudaerah lahan sawah irigasi dan
wawancara terhadap petani pengguna air. Analisisnya berupa analisis deskriptif
kualitatif.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Gbr.
Peta Wilayah Kecamatan Gede Bage
Luas wilayah Kecamatan Gedebage adalah
979,930 Ha. Kelurahan Cisaranten Kidul memiliki wilayah terluas dibandingkan
kelurahan lain yaitu seluas 426,711 Ha atau43,55% dari keseluruhan luas
Kecamatan Gedebage, sedangkan kelurahan yang memiliki wilayah yang terkecil
dibanding kelurahan yang lain adalah Kelurahan Rancanumpang dengan luas sebesar
115,652 Ha atau sekitar 11,80%.
Terdapat 4 kelurahan di Gedebage, antara
lain:
1. Kelurahan Rancabolang
2. Kelurahan Rancanumpang
3. Kelurahan Cisaranten Kidul
4. Kelurahan Cimincrang
Secara topografi wilayah, Kecamatan
Gedebage berada pada dataran rendah dengan ketinggian tanah 627 meter dari
permukaan laut. Dengan luas wilayah sebesar 979,930 hektar, pada saat ini
Kecamatan Gedebage merupakan kecamatan yang masih
memiliki areal pertanian yang cukup luas
dibandingkan dengan kecamatan lain di Kota Bandung. Seiring perkembangan Kota
Bandung, alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian
tidak dapat dielakkan lagi. Begitupun dengan Kecamatan Gedebage, walaupun luas
lahan pertanian di Kecamatan Gedebage masih yang terluas dibandingkan kecamatan
lain di Kota Bandung, tapi tetap saja alih fungsi lahan terjadi secara
signifikan di Kecamatan Gedebage. Luas Kecamatan Gedebage adalah 9,78 km2, yang
penggunaannya diperuntukkan untuk lahan sawah sekitar 50%, lahan pertanian non
sawah 3% dan sisanya berupa lahan non pertanian. Lahan pertanian di kecamatan
Gedebage tahun 2014 semakin berkurang dibandingkan tahun 2013, lahan pertanian
semakin berkurang sebesar 10% hal ini dikarenakan banyak lahan pertanian yang
alih fungsi menjadi perumahan dengan sarana dan prasarananya diantaranya dengan
adanya pembangunan komplek perumahan baru yaitu diantaranya Sumarecon.( BPS
Bandung, 2015)
Lahan sawah yang ada di Kecamatan Gede
Bage tergolong kepada lahan sawah irigasi sederhana. Lahan sawah irigasi
sederhana adalah lahan sawah yang pengairannya bersumber dari jaringan irigasi
sederhana, irigasi sederhana itu sendiri adalah Jaringan irigasi yang
kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas.
Ketersediaan air biasanya melimpah dan
mempunyai kemiringan yang sedang sampai curam, sehingga mudah untuk mengalirkan
dan membagi air. Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena
menyangkut pemakai air dari latar belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini
masih memiliki beberapa kelemahan antara lain; terjadi pemborosan air karena
banyak air yang terbuang.Sistem pengairannya adalah dengan membuka jalan air di
setiap pematang sawah untuk mempertukarkan air dan mendistribusikan air dari
satu petak sawah ke petak lainnya. Apabila musim kemarau tiba maka petani akan
memompa air yang ada di sungai menggunakan mesin untuk pengairan. Sistem
pengairan yang masih sederhana tersebut sudah cukup membuat produksi baik akan
tetapi belum mampu meningkatkan produksi padi di Kecamatan Gede Bage. Sehingga
diperlukan pengairan secara teknis atau semi teknis untuk meningkatkan produksi
padi terutama di musim kemarau.
IV.
KESIMPULAN
Manajemen dan sistem pengairan adalah sebuah faktor yang dapat meningkatkan
produktifitas sebagian besar tanaman. Pemenuhan kebutuhan air tanaman akan
mendukung daya tumbuh dan kembangnya yang akan mendukung adanya produktifitas
dari suatu tanaman untuk menghasilkan hasil produksi yang optimum. Pemberian
air yang cukup akan mengembalikan jumlah air yang hilang dari tubuh tanaman
akibat evapotranspirasi sehingga mampu mendukung berlangsungnya proses
fisiologis dan biokimia tanaman dengan baik.
V.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F., I. Irawan, H. Suganda, W. Wahyunto, A.
Setyanto, and M.
Kundarto. 2006. Environmental multifunctionality of
Indonesian agriculture. Jurnal: Paddy Water Environment 4:
181-188.
Agus, F., dan Irawan. 2006. Agricultural land
conversion as a threat tofood security and environmental quality. Jurnal
Penelitian danPengembangan Pertanian 25(3): 90-98.
Agus, F., and A. Mulyani. 2006. Judicious use of land
resources forsustaining Indonesian rice self
sufficiency. Rice Industry, Cultureand Environment, Book 1. IndonesianCenter
for Rice Research,Sukamandi, Indonesia.
Badan pusat statistik kota bandun.2015.bps. Bandung.
Badan Pusat Statistik (BPS). (1994,
1999, 2006). Luas lahan menurut penggunaan di Indonesia, Jakarta: Survai
Pertanian, BPS.
BPS.
1997-2008. Statistik Indonesia. BadanPusat Statistik. Jakarta
Dariah A., dan F.Agus. 2007.
Pengelolaan Sifat Fisik Tanah Sawahbukaan Baru dalam : Tanah Sawah
Bukaan Baru halaman 107-130. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.
Bogor.
Irawan
B. 2004. Konversi lahan sawah di Jawa dan dampaknyaterhadap produksi padi dalam
: Ekonomi Padi dan BerasIndonesia, halaman 295 -326. Badan Penelitian
danPengembangan Pertanian. Jakarta.
Irawan.
2005. Analisis ketersediaan beras nasional:suatu kajian simulasi
pendekatansistem dinamis. Hlm 107-130. DalamProsiding Seminar Nasional
MultifungsiPertanian dan Ketahanan Pangan, Bogor. Pusat Penelitian dan
PengembanganTanah dan Agroklimat. Bogor.
Saraswati
dan Edi Husen. 2007. Prospek penggunaan pupuk hayatipada sawah bukaan baru dalam
: Tanah Sawah Bukaan Baruhalaman 151-174. Balai Besar Penelitian dan
PengembanganSumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Sembiring, H., dan Daniel, M., 2003.
Prospekpengembangan pengelolaan tanaman terpadupadi sawah di Sumatera tahun
2009. Di DalamHermanto, B., editor. 2013. Analisis FungsiProduksi Usaha Tani
Padi Sawah DanPengaruhnya Terhadap Produksi DomestikRegional Bruto (PDRB) Untuk
Pengembangan Wilayah Di Kabupaten Deli Serdang.
Setyorini,
D., Didi Ardi S., dan Nurjaya. 2007. RekomendasiPemupukan Padi Sawah Bukaan
Baru, dalam : Tanah SawahBukaan Baru halaman 77-106. Balai Besar
Penelitian danPengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Simatupang
P., dan I Wayan Rusastra. 2004. Kebijakan PembangunanSistem Agribisnis Padi.
Ekonomi Padi dan Beras Indonesia.
Badan Litbang Pertanian. Jakarta.
Halaman 31-52.
Subagjo
H., Nata Suharta dan Agus Bambang Siswanto. 2000. Tanahtanahpertanian di
Indonesia, dalam Sumberdaya lahanIndonesia dan Pengelolaannya, halaman
21-65. Puslit Tanah dan Agroklimat. Bogor.
Sudaryanto
T. 2003. Konversi lahan dan produksi pangan nasional.Prosiding Seminar Nasional
Multifungsi dan Konversi lahanpertanian di Bogor halaman 57-65. Puslitbang
Tanah dan Agroklimat. Bogor
Swastika,
D.K.S., P.U. Hadi, dan N. Ilham. 2000.Proyeksi Penawaran dan
PermintaanKomoditas Tanaman Pangan: 2000-2010. Pusat Penelitian Sosial Ekonom
Pertanian. Hlm 24.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar